SANG PENDEKAR TURUN GUNUNG
00.28 Edit This 0 Comments »
SANG PENDEKAR TURUN GUNUNG
Ini adalah kisah abadi dalam hidupku.
Ketika dunia masih sangat kacau. Perebutan kekuasaan, kejahatan dimana-mana, perampasan hak, pemerkosaan. Semua orang mementingkan diri sendiri, kelaparan merajalela di seluruh pelosok negeri. Peperangan pecah setiap hari. Pemberontakan selalu ada setiap hari.
Akhirnya, kelompok-kelompok perguruan saling berkumpul menjadi dua bagian. Berdasarkan persamaan rasa dan nasib, mereka berusaha memperjuangkan satu hal yaitu kemerdekaan. Sebuah kebebasan menjalani hidup, kebebasan menyatakan pendapat, bebas berpikir, bahkan kebebasan dalam menyatakan cinta.
Waktu yang berjalan cepat membuat persaingan semakin hebat, dan hanya dia yang memiliki kekuatan yang mampu bertahan.
Jack (Seorang Tentara): (masuk dengan gaya bertarung boxing) I am the winner … .
Sejak kedatangan orang-orang asing, kehidupan negeri ini perlahan-lahan mulai berubah. Kemajuan teknologi banyak disalahgunakan. Tetapi demi kejayaan negeri, aku tetap mengasah kemampuan dengan latihan rutin dan bertapa di dalam gua, sebagai pendekar …
Ken (seorang samurai): Hai! So desu ne! (langsung menusuk, membelah, memecah, dan memamerkan keahliannya bermain pedang)
Demi mempertahankan keluhuran para sesepuh perguruan, aku telah menjelajah seluruh rimba, menaklukkan gunung, mengarungi laut, dan membelah sungai. Demi ilmu pamungkas warisan nenek moyang, mereka menyebutku “Ki Among Raga” (melakukan atraksi seni bela diri)
(secara tiba-tiba, Jack dan Ken bertarung sangat sengit)
Jack : Akulah yang terbaik.
Ken : Dan aku yang terbaik dari yang terbaik.
Jack : Terimalah pukulanku (suara menggelegar).
Ken : Topan memburu angina (suara mendenting).
(karena merasa keberadaannya terusik, Ki Among Raga langsung turun ke tengah-tengah pertarungan)
Ki : Baiklah, lebih baik kalian kembali ke negeri asal kalian, atau mau mencoba kemampuan pendekar pilih tanding ini.
Jack dan Ken: Tidak!
(pertarungan tidak dapat dihindari lagi, akhirnya Ki Among Raga menjadi sang pemenang karena keluhuran budinya)
Jayalah negeri, jayalah Indonesia.
Ini adalah kisah abadi dalam hidupku.
Ketika dunia masih sangat kacau. Perebutan kekuasaan, kejahatan dimana-mana, perampasan hak, pemerkosaan. Semua orang mementingkan diri sendiri, kelaparan merajalela di seluruh pelosok negeri. Peperangan pecah setiap hari. Pemberontakan selalu ada setiap hari.
Akhirnya, kelompok-kelompok perguruan saling berkumpul menjadi dua bagian. Berdasarkan persamaan rasa dan nasib, mereka berusaha memperjuangkan satu hal yaitu kemerdekaan. Sebuah kebebasan menjalani hidup, kebebasan menyatakan pendapat, bebas berpikir, bahkan kebebasan dalam menyatakan cinta.
Waktu yang berjalan cepat membuat persaingan semakin hebat, dan hanya dia yang memiliki kekuatan yang mampu bertahan.
Jack (Seorang Tentara): (masuk dengan gaya bertarung boxing) I am the winner … .
Sejak kedatangan orang-orang asing, kehidupan negeri ini perlahan-lahan mulai berubah. Kemajuan teknologi banyak disalahgunakan. Tetapi demi kejayaan negeri, aku tetap mengasah kemampuan dengan latihan rutin dan bertapa di dalam gua, sebagai pendekar …
Ken (seorang samurai): Hai! So desu ne! (langsung menusuk, membelah, memecah, dan memamerkan keahliannya bermain pedang)
Demi mempertahankan keluhuran para sesepuh perguruan, aku telah menjelajah seluruh rimba, menaklukkan gunung, mengarungi laut, dan membelah sungai. Demi ilmu pamungkas warisan nenek moyang, mereka menyebutku “Ki Among Raga” (melakukan atraksi seni bela diri)
(secara tiba-tiba, Jack dan Ken bertarung sangat sengit)
Jack : Akulah yang terbaik.
Ken : Dan aku yang terbaik dari yang terbaik.
Jack : Terimalah pukulanku (suara menggelegar).
Ken : Topan memburu angina (suara mendenting).
(karena merasa keberadaannya terusik, Ki Among Raga langsung turun ke tengah-tengah pertarungan)
Ki : Baiklah, lebih baik kalian kembali ke negeri asal kalian, atau mau mencoba kemampuan pendekar pilih tanding ini.
Jack dan Ken: Tidak!
(pertarungan tidak dapat dihindari lagi, akhirnya Ki Among Raga menjadi sang pemenang karena keluhuran budinya)
Jayalah negeri, jayalah Indonesia.

0 comments:
Posting Komentar