Naskah
00.25 Edit This 0 Comments »
BALADA TANAH-TANAH RETAK
Oleh Aga Shakti Kristian
Sirine
Suara-suara. Orang berteriak bersahutan seperti mengejar sesuatu, seperti bicara pada diri sendiri. Bicara pada orang-orang di tempat yang sangat jauh.
Prolog
Semua masalah harus diselesaikan hari ini. Tak perlu bingung apalagi canggung untuk menyampaikan secara langsung atau lewat belakang.
Maaf. Kehadiran saya hanya sebagai tumbal, orang mengatakan saya sedang Ketiban Sampur. Tapi ya Matur Nuwun, terima kasih. Thanks You. Cam Siah atas partisipasi anda sekalian dalam menyikapi masalah ini.
Bukan sekadar pemanasan global, bukan hanya penebangan liar, tetapi juga pembuangan sampah di sembarang tempat. Juga pelaksanaan relokasi pemukiman padat penduduk, pembangunan mall, serta WC umum yang semakin menjadi jamur. Semua berhubungan dengan alam dan manusia. Oleh sebab itu, kehadirang saya dan apa yang saya bawa (menunjukkan koper) ini dapat membuat perputaran dan siklus sosial berjalan normal meski minyak dunia sudah naik. Lumrah to kalo ongkos pembuatan baju juga ikut naik.
Permisi!
ADEGAN 1
Nyanyian Petani
Kami tunggu tiap musim
Tanah-tanah tak juga lelah
Tinggal tangan yang mengepal
Lepas lelah dipenggal petang
Kabut
Tipis
Tiap kicau di hati adalah karyamu
Mencari tunas di musim bersemi
ADEGAN 2
Dari tengah tanah garapan terlihat sebuah getaran kecil. Gerakan-gerakan dinamis yang sangat pelan, mengeluarkan sedikit asap dan suara letusan kecil.
Tanah disekitarnya ikut bergerak, perlahan saja. Tetapi orang-orang tetap beraktivitas. Mereka tidak menyadari bahawa tanah tersebut telah menjadi sosos-sosok yang selalu bergerak.
Sosok-sosok itu membesar, menciptakan gerak yang semakin tak beraturan. Hari telah beranjak sore. Mereka menggelegak, menhentak, dengan irama patah-patah.
Sosok-sosok itu mendekati petani....
Mereka terus bergerak menggilas tanah garapan, memporakporandakan harapan panen bulan ini. Menyisakan tangan-tangan kosong dan keringat yang menguap begitu saja.
Para petani menunduk lesu di sudut suram, hingga salah seorang dari mereka bangkit dan berusaha menenangkan sosok-sosok yang mulai menggila. Kedudukan yang tidak seimbang membuat petani-petani turun tangan. Semua cara digunakan untuk membuat sosok-sosok itu tenang.....
ADEGAN 3
Nyanyian Sosok*
: Kenapa?
: Kenapa harus terjadi?
: Jawab sendiri jika tangan dan kepalamu sudah terbalik.
: Kita hanya melaksanakan komando. Titik.
: Tetapi, akibatnya?
: Resiko dong.
: Semua jadi kacau. Bagaimana jika mereka mendadak stress, lalu secara bergantian mereka gantung diri, trus sisanya menum racun bareng-bareng karena tindakan kita kali ini.
: Itu bukan urusan kita. Itu masalah mereka.
: Lihat. Dulu sewaktu kita masih anak, semua masih serba hijau. Segar. Sejuk. Indah. Lalu sekarang, lihatlah gedung-gedung menghimpit kita. Cahaya lampu berpendar-pemndar. Megah. Tapi, lihatlah di sana, berdiri dengan cepat gubuk-gubuk reyot, dan orang-orang makan bangkai anjing.
: Kalian lihatlah di sana. Deretan rumah-rumah mewah yang menyimpan jutaan keluarga bahagia. Ada kolam renang pribadi, lapangan golf pribadi, mobil mewah bahkan pesawat terbang pribadi. Ketika mereguk week-end mereka berselingkuh dengan pacar gelapnya.
: Dan lihatlah di sana, di gedung pencakar langit itu. Orang-orang berpesta. Ya ampun, mereka melakukan orgi, pesta seks besar-besaran. Gaya mereka luar biasa gila.
: Lihatlah, mereka juga masih suka teler bersama, lalu mengumpat di sembarang tempat.
Dan selama ini kita hanya melihat, kita tidak bernah berbuat sesuatu. Mereka lakukan semua itu di atas kita, di atas saudara-saudara kita, mereka sudah membuat kesalahan besar.
: (muncul tiba-tiba) Siapa yang salah? Siapa yang benar?
: Siapa yang mulai?
: Siapa yang rakus?
: Egois!
: Tak tahu diuntung!
: Kurang ajar!
: Kurang ajar!
: Kurang ajar ……………….
: Kurang ajar?
: Kurang ajar.
: Kalian memang memilih mampus. Anjing.
: Kalian memang anjing! Mampus saja sekalian!
Perang tak dapat dihindari. Masing-masing kubu mulai menyerang. Menyerang apa saja ayang ada di depannya.
Lagu Perang Sosok*
Lagu Perang Petani*
Lagu Perang Sosok vs Petani*
Seorang muncul membawa koper di tangannya. Sementara perang masih terus dan semakin sengit. Sampai pada akhirnya, masing-masing merasa kelelahan, kecapekan, saling tidur di tempat-tempat yang ada.
Epilog
Beginilah jika semua saling adu okol, adu otot, adu otak. Menang akan jadi arang, dan yang kalah akan jadi abu. Tidak berguna. Tak ada pemenang apalagi pecundang. Semua pasti rugi. Kalian semua ingat baik-baik, siapa yang paling berani menerima resiko, ia yang akan menanggung beban ini. Sendirian. Titik.
Malang, 9 Juni 2008
Oleh Aga Shakti Kristian
Sirine
Suara-suara. Orang berteriak bersahutan seperti mengejar sesuatu, seperti bicara pada diri sendiri. Bicara pada orang-orang di tempat yang sangat jauh.
Prolog
Semua masalah harus diselesaikan hari ini. Tak perlu bingung apalagi canggung untuk menyampaikan secara langsung atau lewat belakang.
Maaf. Kehadiran saya hanya sebagai tumbal, orang mengatakan saya sedang Ketiban Sampur. Tapi ya Matur Nuwun, terima kasih. Thanks You. Cam Siah atas partisipasi anda sekalian dalam menyikapi masalah ini.
Bukan sekadar pemanasan global, bukan hanya penebangan liar, tetapi juga pembuangan sampah di sembarang tempat. Juga pelaksanaan relokasi pemukiman padat penduduk, pembangunan mall, serta WC umum yang semakin menjadi jamur. Semua berhubungan dengan alam dan manusia. Oleh sebab itu, kehadirang saya dan apa yang saya bawa (menunjukkan koper) ini dapat membuat perputaran dan siklus sosial berjalan normal meski minyak dunia sudah naik. Lumrah to kalo ongkos pembuatan baju juga ikut naik.
Permisi!
ADEGAN 1
Nyanyian Petani
Kami tunggu tiap musim
Tanah-tanah tak juga lelah
Tinggal tangan yang mengepal
Lepas lelah dipenggal petang
Kabut
Tipis
Tiap kicau di hati adalah karyamu
Mencari tunas di musim bersemi
ADEGAN 2
Dari tengah tanah garapan terlihat sebuah getaran kecil. Gerakan-gerakan dinamis yang sangat pelan, mengeluarkan sedikit asap dan suara letusan kecil.
Tanah disekitarnya ikut bergerak, perlahan saja. Tetapi orang-orang tetap beraktivitas. Mereka tidak menyadari bahawa tanah tersebut telah menjadi sosos-sosok yang selalu bergerak.
Sosok-sosok itu membesar, menciptakan gerak yang semakin tak beraturan. Hari telah beranjak sore. Mereka menggelegak, menhentak, dengan irama patah-patah.
Sosok-sosok itu mendekati petani....
Mereka terus bergerak menggilas tanah garapan, memporakporandakan harapan panen bulan ini. Menyisakan tangan-tangan kosong dan keringat yang menguap begitu saja.
Para petani menunduk lesu di sudut suram, hingga salah seorang dari mereka bangkit dan berusaha menenangkan sosok-sosok yang mulai menggila. Kedudukan yang tidak seimbang membuat petani-petani turun tangan. Semua cara digunakan untuk membuat sosok-sosok itu tenang.....
ADEGAN 3
Nyanyian Sosok*
: Kenapa?
: Kenapa harus terjadi?
: Jawab sendiri jika tangan dan kepalamu sudah terbalik.
: Kita hanya melaksanakan komando. Titik.
: Tetapi, akibatnya?
: Resiko dong.
: Semua jadi kacau. Bagaimana jika mereka mendadak stress, lalu secara bergantian mereka gantung diri, trus sisanya menum racun bareng-bareng karena tindakan kita kali ini.
: Itu bukan urusan kita. Itu masalah mereka.
: Lihat. Dulu sewaktu kita masih anak, semua masih serba hijau. Segar. Sejuk. Indah. Lalu sekarang, lihatlah gedung-gedung menghimpit kita. Cahaya lampu berpendar-pemndar. Megah. Tapi, lihatlah di sana, berdiri dengan cepat gubuk-gubuk reyot, dan orang-orang makan bangkai anjing.
: Kalian lihatlah di sana. Deretan rumah-rumah mewah yang menyimpan jutaan keluarga bahagia. Ada kolam renang pribadi, lapangan golf pribadi, mobil mewah bahkan pesawat terbang pribadi. Ketika mereguk week-end mereka berselingkuh dengan pacar gelapnya.
: Dan lihatlah di sana, di gedung pencakar langit itu. Orang-orang berpesta. Ya ampun, mereka melakukan orgi, pesta seks besar-besaran. Gaya mereka luar biasa gila.
: Lihatlah, mereka juga masih suka teler bersama, lalu mengumpat di sembarang tempat.
Dan selama ini kita hanya melihat, kita tidak bernah berbuat sesuatu. Mereka lakukan semua itu di atas kita, di atas saudara-saudara kita, mereka sudah membuat kesalahan besar.
: (muncul tiba-tiba) Siapa yang salah? Siapa yang benar?
: Siapa yang mulai?
: Siapa yang rakus?
: Egois!
: Tak tahu diuntung!
: Kurang ajar!
: Kurang ajar!
: Kurang ajar ……………….
: Kurang ajar?
: Kurang ajar.
: Kalian memang memilih mampus. Anjing.
: Kalian memang anjing! Mampus saja sekalian!
Perang tak dapat dihindari. Masing-masing kubu mulai menyerang. Menyerang apa saja ayang ada di depannya.
Lagu Perang Sosok*
Lagu Perang Petani*
Lagu Perang Sosok vs Petani*
Seorang muncul membawa koper di tangannya. Sementara perang masih terus dan semakin sengit. Sampai pada akhirnya, masing-masing merasa kelelahan, kecapekan, saling tidur di tempat-tempat yang ada.
Epilog
Beginilah jika semua saling adu okol, adu otot, adu otak. Menang akan jadi arang, dan yang kalah akan jadi abu. Tidak berguna. Tak ada pemenang apalagi pecundang. Semua pasti rugi. Kalian semua ingat baik-baik, siapa yang paling berani menerima resiko, ia yang akan menanggung beban ini. Sendirian. Titik.
Malang, 9 Juni 2008

0 comments:
Posting Komentar